cerpenkudont believe me, i'm superstitious
anuaja
read my profile
sign my guestbook

Visit anuaja's Xanga Site!

Name: anu
Location: Bandung, Indonesia
Birthday: 12/30/1983
Gender: Male


Interests: music, books, writing, nyari masalah, gangguin cewe orang.
Expertise: guitar playing, writing stories


Message: message meEmail: email me
Website: visit my website
Yahoo: kacanggorengasin


Member Since: 10/13/2004

SubscriptionsSites I Read
dodybear

Posting Calendar

|<< oldest | newest >>|
view all weblog archives

Get Involved!

Suggest a link

Recommend to friend

Create a site


Saturday, November 28, 2009

see you at the rest area

Jam dinding di kantor Iman  menunjukkan pukul 7 malam saat dia mulai membereskan mejanya. Semua teman kerjanya sudah pulang lebih dulu. Sehari penuh Iman telah bergelut dengan pekerjaan, tapi wajahnya tidak menunjukkan rasa lelah sama sekali. Selesai mematikan komputer, Iman bergegas menuju mobilnya.

Kantor Iman terletak di lantai 8 sebuah gedung perkantoran di kota Bandung. Tidak butuh waktu lama untuknya segera duduk di dalam mobilnya yang terparkir di lantai yang sama. Ia bisa melihat kelap kelip lampu kota terpantul dari spion mobilnya. Sambil memanaskan mobilnya, Iman menikmati pemandangan tersebut.

Iman tidak menyukai pekerjaannya. Jenis pekerjaan kantoran 8 to 5 yang mungkin diidam-idamkan banyak pencari kerja dikotanya, namun bukan yang ia inginkan. Iman selalu merasa, bahwa kehidupannya baru dimulai setelah jam kantor. Tiga tahun terlewat bekerja sebagai pekerja kantoran, jauh dari mimpinya. Ia sadar bahwa ia sudah tidak muda lagi, mengejar mimpi remaja menjadi hal yang sangat mahal baginya. Sebagai seorang kepala keluarga, ia tidak punya pilihan lain untuk menghidupi keluarganya.

Lepas dari kompleks perkantoran, Iman memacu mobilnya menuju pom bensin. Ia mengisi penuh tangki bensin mobilnya. Sebelum keluar dari pom bensin, ia membawa mobilnya ke pinggir untuk mengecek tekanan bannya satu per satu. Jelas ia tidak berencana langsung pulang ke rumah.

***

Almira sudah selesai menidurkan anak-anaknya. Ia wanita yang beruntung, memiliki 2 anak yang manis dan tidak rewel. Setiap hari sebelum jam 8 malam, kedua anaknya pasti sudah mengantuk. Dari kecil sekali kebiasaan tidur cepat ini diterapkan Almira pada anak-anaknya. Ia berprinsip bahwa selama anak masih dalam masa pertumbuhan, mereka harus mendapat cukup tidur sehingga saat dewasa tubuhnya akan tumbuh sempurna.

Sempurna. Itu yang mereka bilang tentang keluarganya. Suaminya memiliki sebuah LSM yang sebagian besar kegiatannya berkisar pada advokasi penduduk kawasan kumuh Jabodetabek dan membantu masalah-masalah kesejahteraan yang dihadapinya. LSM tersebut mempunyai donor setia dari luar negeri yang senantiasa percaya memberikan dukungan dana. Almira sendiri adalah pemilik sebuah resor mewah di Pantai Pangandaran warisan dari orang tuanya. Resor tersebut dikelola oleh kepercayaan mendiang orang tuanya, sehingga ia tidak perlu terlalu banyak turun tangan. Ia sendiri seorang aktivis lingkungan, sedikit dari segelintir orang yang bisa mempertahankan idealismenya, tanpa perlu memikirkan masalah finansial dirinya dan keluarganya.

Setelah mencium kening kedua anaknya, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum sendiri, mensyukuri titipan Tuhan yang diberikan padanya. Suaminya sedang pergi. Tiga hari, untuk memenuhi undangan forum LSM internasional di Bali. Hari ini adalah hari terakhir. Besok pagi, suaminya pulang.

Almira tinggal disebuah kompleks perumahan baru di daerah Cibubur. Perumahan ini dipilihnya bersama suami sebagai tempat tinggal karena letaknya tidak terlalu jauh dengan kantor suaminya. Almira mulai melakukan ceklis di kepalanya, sebuah kebiasaan yang dilakukannya sejak masa sekolah. Mandi: sudah. Menidurkan anak: sudah. Memberitahu baby sitter untuk tidur di kamar anaknya: sudah. Menelepon suami memastikan pulang besok pagi: sudah. Tinggal berangkat.

***

Iman tidak akan pernah lupa kejadian itu. Saat itu ia masih duduk di bangku kuliah semester 3. Untuk mengisi waktu luang, Iman bekerja paruh waktu di perpustakaan kampusnya. Selain ia memang suka membaca novel-novel tua Eropa - Amerika koleksi perpustakaan tersebut, bekerja di perpustakaan juga menambah uang sakunya yang pas-pasan.

Suatu kali di sore yang cerah, ia bertugas menjaga pintu masuk. Setiap mahasiswa yang ingin masuk ke perpustakaan harus menyerahkan KTPnya untuk ditukar dengan tanda pengunjung, dan salah satu tugas Iman adalah menjaga proses itu tetap berjalan lancar. Karena sepi, Iman sering melamun di posnya. Tiba-tiba seorang perempuan cantik dengan rambut yang lurus mengagetkan Iman yang sedang larut dalam lamunannya. Perempuan itu menyodorkan KTPnya ke hadapan Iman. Sorot matanya yang teduh dan bersahabat, sebuah pemandangan yang tanpa ia sadari, tak akan ia lupakan selamanya. Nama perempuan itu, Almira. "Nama yang manis...", gumam Iman dalam hati saat melihat tulisan yang tertera di KTP yang dititipkan perempuan tadi.

Tidak butuh waktu lama bagi Iman untuk menyukai Almira. Setelah perkenalan pertamanya di pintu perpustakaan saat pengembalian KTP, rasa itu mulai tumbuh. Dari hanya saling sapa, hubungan pertemanan itu berkembang menjadi makan siang bareng dan diskusi buku- buku kesukaan mereka. Almira adalah teman diskusi yang tidak pernah dimiliki Iman. Selain seorang pendengar yang baik, Almira juga seorang pendebat yang handal.Iman tidak pernah memberitahu Almira bahwa ia menyukainya. Selama bertahun-tahun, mereka hanya berteman. Dengan cara yang ajaib, mereka selalu bisa menjaga hubungan mereka dengan mengontak satu sama lain. Dari awal pertemuan, mereka sama-sama merasa tidak pernah menemukan orang sebaik itu untuk diajak bicara. Tentang apapun.

***

Suami Almira bukanlah orang paling liberal di seluruh dunia. Suami Almira adalah pria yang pencemburu. Tidak pernah satu kalipun dalam sejarah pernikahan mereka, suaminya mengijinkan Almira untuk menemui pria berdua saja, untuk urusan apapun. Sejujurnya di dalam hati Almira, hal ini sangat menyiksanya, mengingat sebagian besar teman kuliahnya dan sahabatnya dahulu  adalah pria. Ia mencoba untuk bersabar dan mengalihkan kerinduannya pada hal yang lain, namun tidak bisa.

Kali ini bukanlah kali yang pertama. Almira, dengan dada yang berdegup kencang tak henti, menyetir mobilnya menuju pintu tol Cipularang. Ia bukan tipe perempuan yang nekat, namun ada sesuatu yang mendesak dari dalam hatinya untuk melakukan ini. Sebuah dorongan yang tidak dapat ia tahan lagi. Dua hari lewat sudah untuk menahannya, namun malam ini ia harus pergi. Mungkin kesempatan tidak akan datang lagi. Tidak ada keraguan dalam hati Almira. Ia hanya ingin... Bicara.

***

Iman baru saja selesai menelepon istrinya, mengabari bahwa hari ini ia akan pulang sangat larut karena ia diminta menemani bosnya karaoke hingga waktu yang tidak jelas sampai jam berapa. Muncul perasaan bersalah dari dalam hati Iman, membohongi istrinya tentang kemana ia akan pergi. Terbayang wajah kecewa anaknya yang masih kecil, yang tidak bisa menemui ayahnya malam ini. Belakangan memang susah untuknya menemui anak semata wayangnya, mengingat di malam hari saat ia pulang anaknya sudah tidur, dan di pagi hari saat anaknya berangkat sekolah, ia belum bangun.

Setelah mengambil kartu di gerbang tol Cipularang, Iman menutup jendela lalu memacu mobilnya hingga kecepatan maksimal. Inilah yang paling ia inginkan di dunia. Ia akan menemui seseorang yang disukainya.

***

Setahun yang lalu, di malam yang gelap tanpa bintang di daerah perumahan Cibubur, sepasang pasangan muda terdengar sedang bertengkar. Almira dan suaminya. Suaminya memergoki Almira dan Iman sedang berduaan di sebuah coffee shop di Jakarta. Almira tidak mau mengaku salah karena ia tidak merasa sedang berselingkuh, ia hanya duduk untuk kopi, bersama dengan sahabat lamanya, sahabat yang bahkan kenal jauh sebelum suaminya mengenalnya. Rupanya pertengkaran tersebut tidak berakhir dengan baik. Pertengkaran tersebut diakhiri dengan pipi Almira yang merah, mata kanan yang bengkak karena menangis, dan mata kiri yang lebam.

Sejak saat itu, Almira bersumpah di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan pernah ketahuan lagi berduaan dengan pria manapun oleh suaminya. Malam itu, Almira pergi ke rumah neneknya di Tebet dengan alasan ingin menenangkan diri sendiri dulu. Di rumah neneknya, Almira menelepon Iman.Tidak lama setelah itu, Almira dan Iman sepakat untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi. Ini berarti mereka tidak bisa bertemu baik di Bandung, maupun di Jakarta. Almira tidak bisa mengambil resiko ketahuan lagi oleh suaminya, atau mungkin oleh keluarga atau teman suaminya. Iman juga tidak ingin menyakiti hati istri dan anaknya. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk bertemu di rest area tol cipularang. Mereka memilih satu rest area yang dirasa nyaman, buka 24jam, dan letaknya hampir persis di pertengahan antara Bandung dan Jakarta.

Demi rasa yang menggebu-gebu itu, mereka menyelinap diantara rutinitas mereka untuk bertemu satu sama lain.

***

Sedikit lagi Iman sampai di tempat yang dituju. Ia tersenyum membayangkan wajah Almira yang susah sekali ia ingat belakangan.

Almira mengoper persneling mobilnya ke posisi paling tinggi. Ia sadar bahwa tinggal 2km lagi jarak yang ia harus tempuh.

Saat itu langit sedang cerah. Iman memarkirkan mobilnya  di sebuah rest area yang luas dan tertata rapi. Dadanya berdegup kencang.

Belum selesai ia membuka sabuk pengamannya, muncul sebuah mobil yang sangat dikenalnya, parkir di sebelah mobil Iman. Di dalamnya, terlihat seorang perempuan yang sangat dikenalnya.

"Hai Mira.."
"Hai Iman.."


Tuesday, May 01, 2007

valentine love satire

Ide itu. Kamu.

Perempuan anjing.

Aku ingin menangis.

Menangis tanpa alasan.

Melamun.

Badanku merinding, karenamu.

Kamu, perempuan anjing.

 

Aku sangat tolol.

Aku pasti tampak bodoh.

…Kala hujan gerimis, saat harapanku akan mati, kau berjalan dari arah yang berlawanan, mengucakan hai, dengan pandangan mata itu…

 

Aku tahu.

Aku seharusnya sadar. I should've known.

Perempuan anjing.

Memberi cahaya pada hatiku, tapi hanya sedikit.

Seperti sepotong lilin kecil.

Begitu dibakar, habis. Itulah lilin, memberi cahaya kecil, menunggu sampai lampu menyala. Lilin, habis.

Tapi waktu itu gelap, gelap sekali. Cahayamu, sungguh memberkati, a relief.

Titik.

 

Seharusnya cukup sampai disitu.

Tidak lagi.

 

Kau dan aku, sungguh sebuah cerita yang superabsurd.

Tidak ada di dunia nyata.

Bahkan hal ter-absurd pun, tidak mengijinkan kau dan aku.

Kau dan aku, tidak pernah ada.

 

 

Kau tahu, ini tak mudah bagiku.. Kusadari, melupakanmu itu percuma saja. Yang harus kulakukan itu mungkin.. bukan melupakanmu.. tapi berusaha menghadapi perasaanku sendiri padamu yang tak kunjung padam. Aku harus menghadapi ini. Ini kenyataan yang harus aku hadapi setiap hari. Perasaanku padamu, tidak berubah, sedikitpun. Hingga aku sampai pada suatu titik, dimana waktu bukan jawabannya. Yang seharusnya aku lakukan, mungkin mengontrolnya.

Sebentar lagi valentine. Kau ingat, saat aku menyerahkan sekotak coklat padamu? Kotak biru yang disekelilingnya ditulisi puisi? Ring a bell? Mungkin kau tidak menyadarinya, saat itu, tanganku bergetar. Tidak bisa kukontrol. Lututku juga. Hatiku juga. Seperti orang kedinginan, tapi sumber dinginnya bukan dari luar badan, melainkan dari dalam.

Kau adalah yang terakhir, kau tahu? Sebelumnya, kupakai hatiku pada setiap perempuan yang kusukai. Semuanya kandas. Ada yang memang tidak mencintaiku, ada pula yang lepas karena kecerobohan, kesalahanku sendiri. Kekecewaanku menumpuk. Kukira kaulah pencerahku. Seluruh sisa cinta dan perasaanku kutumpuk semua padamu. Tak kukira, kau tidak membalasnya. Kau tidak merasakan yang sama padaku. Mirip sedikit pun tidak.

Aku, aaku, aaa.. a ku, aku tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Sensasi tersendiri. Dadaku terasa panas juga dingin, seperti diremas, seperti efek mint berlebih. Dingin sekali. Tenggorokanku tercekat, mulutku menganga lebar, dan hidungku mampat. Mataku terasa berat, karena terus saja ada cairan yang mengalir dari sudutnya. Kira-kira seperti itulah rasanya. Pernah merasakan sensasi seperti itu?

Kau masih yang terakhir, kau tahu? Tanpa sadar, hatiku menolak untuk ditaruh lagi pada perempuan manapun. Ia takut, takut sekali. Seperti ulat yang dipermainkan anak kecil, ia melingkar. Seperti kista, ia mengeras. Tak mau membuka.

Ia melunak, saat kau datang. Ia menjadi lunak, lembek, cair. Membuatmu lebih mudah untuk mengirisnya.

Maaf, aku melakukannya lagi. Aku membuatmu merasa tidak enak, ya? Seharusnya aku tidak begitu. Seharusnya aku membuatmu merasa nyaman di dekatku. Agar kau kerasan. Tapi biasanya, sekeras apapun usahaku untuk menyenangkanmu, kau tidak pernah mau datang kembali, tanpa diminta. Tanpa dibujuk. Getir rasanya.

Kadang aku berpikir gila untuk mengancammu, akan menyakiti diriku jika kau tidak kunjung mencintaiku. Kurasa memotong daging di sebelah urat nadi tidak akan mati. Atau jatuh terjungkal-jungkal dari sepeda motor tidak akan mati, jika masih memakai helm. Apa saja. Anything to make you love me. Tapi aku sadar bahwa itu semua tak akan membuatmu mencintaiku. Aku tak mau satu kencan denganmu. Aku tak mau pelukan, atau ciumanmu. Aku ingin hatimu. Aku ingin kau mencintaiku. Tapi mungkin, suatu saat bila aku putus asa, aku akan melakukan salah satu hal bodoh semacam itu. Nah kan, aku mulai mengancam lagi.

Semua yang kutulis, yang kuucapkan padamu, tujuannya hanya satu. Secara langsung atau tidak langsung, aku berusaha membujukmu untuk mencintaiku. Oh, aku jujur sekali, ya? Maka sekarang kubuat lebih mudah bagimu. Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Maukah denganku? Kumohon jawabannya hanya ya dan tidak. Bukan jawaban yang lain. Katakanlah ya. Please? Walau kutahu, jika jawabannya selain ya, pasti kau akan meracau tak jelas, menasehatiku.

Ya sudah. Tidak usah dijawab jika kau tak mau.

Aku pasti terdengar seperti orang psycho. Ya kan? Aku pasti terdengar seperti orang yang sangat emosional dan tidak terdengar normal. Tapi inilah yang bisa kulakukan, untuk membujukmu mencintaiku. Walau jika mau jujur, ini sebuah usaha percuma. Menambah poin cap orang anehku bertambah di matamu. Sebut ini a quarter life crisis. Tapi aku tak yakin semua orang merasakan derita yang kurasakan.

Besok kau akan pergi lagi. Pergilah. Saat kita bertemu lagi, perasaanku masih akan tetap sama. Aku hanya harus belajar untuk mengontrolnya. Setiap hari. Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu sebelum kau pergi. Makanya kutelepon kau setengah jam yang lalu, dari handphone-ku, di atas gedung tingkat 14 ini. Haha, sebenarnya aku hanya main-main, mengatakan aku akan melompat ke bawah jika kau tidak datang. Tapi kau lama sekali, membuatku tidak sabar. Haha, itu dia kau datang, bisa kudengar langkah-langkahmu yang terburu-buru menaiki tangga melingkar menuju kesini. Dan muncullah engkau, melalui pintu besi itu. Seperti biasa cantik, kali ini dengan peluh dan wajah kuatir. Senangnya melihatmu begitu. Artinya kau masih peduli padaku. Aku ingin sedikit bermain-main lagi denganmu. Kupanjat dinding batas terluar gedung, dan kurentangkan tanganku. Dugaanku benar. Kau langsung berteriak padaku untuk tidak melompat. Haha, padahal aku memang tidak berniat melompat.

 

"Maukah denganku?"

Angin mendesir kencang di lembayung sore saat aku mengatakannya. Lampu kota yang indah mulai terlihat samar dari tempatku berdiri. Buram, terhalang air yang entah kenapa terus menetap di mataku.

Kau terdiam.

Lama sekali.

"Jangan berbuat bodoh, turun kesini…"

Suaramu tetap indah, seindah lima tahun yang lalu, saat pertama aku jatuh suka padamu.

"Tolong jawabannya hanya ya dan tidak."

Aku merasa inilah saat yang tepat untuk memaksanya menjawab pertanyaan terbesar dalam hidupku.

Kau terdiam lagi. Kali ini lebih lama.

Hening.

Diam ini terasa berteriak, sakit sekali di telinga.

 

Warna-warna indah di langit mulai meredup berganti kelam. Awan-awan berarak yang merefleksikan lembayung dan merah kini mulai kehilangan cahayanya.

 


Thursday, November 02, 2006

coffee & tv

Kapan?

Besok lusa?

Ok.

Lama tidak mendengar kabar darimu. Well, walau hampir setiap hari aku bisa melihatmu. Barusan saja kau menelepon. Setelah lima tahun berlalu tanpa kabar, akhirnya Linda meneleponku, mengajak bertemu, untuk sebuah reuni yang terlambat. Ryan, Nanto, Fahni, dan Linda. Three Musketeers plus d'Artagnan transgender. Ya, waktu SMA sampai awal kuliah kita selalu bareng.

Aku tidak tahu kalau kita berempat bisa dibilang sahabat. Karena satu alasan tersembunyi seringnya kita pergi bareng adalah… Kita bertiga sama-sama menyukai Linda. Sebuah rahasia yang sangat kentara tapi tidak pernah diucapkan.

Tidak pernah diucapkan, sampai saat Fahni nembak Linda, sebelum aku, padahal aku sudah rencana betul-betul mau nembak Linda. Nanto secara alami mundur dan secepatnya beralih perhatian pada perempuan lain. Yah tapi itu masa lalu.

Sampai saat itu, kami "belum sempat" berhubungan lagi. Kudengar kabar kalau akhirnya Fahni dan Linda putus. Fahni tunangan dengan orang lain. Linda agak syok. Agak susah menerimanya. Dia pindah kuliah. Kampus beda, jurusan beda. Tadinya arsitek, berubah jadi HI.

Sampai suatu hari, beberapa bulan yang lalu, aku melihat wajahnya di TV. Ya, Linda jadi news reporter. No wonder, smart, good looking. Ingin menghubunginya, sekedar mengucapkan selamat, tapi dia sudah ganti nomor telepon. Aku sekarang yang hanya bekerja sebagai editor buku latihan SD di sebuah penerbit tidak terkenal, agak merasa iri juga. I always wanna be a journalist.

Kamu ngajak buka puasa bareng. Just the four of us. Three musketeers plus d'Artagnan. Aku bisa, besok lusa jadwalku kosong. Kamu sudah hubungi Fahni dan Nanto. I wonder, how is it gonna be. Lima tahun itu cukup lama.

 

* * *

 

Kami mengucapkan halo, lalu bertanya tentang kabar masing-masing. Aku ketinggalan berita. Fahni sudah nikah. Nanto buka bengkel motor di Depok. Tentu saja Linda yang jadi pusat perhatian dan paling banyak dihujani pertanyaan, mengingat di antara kami berempat, dialah yang paling terkenal, iyalah, nongol setiap hari di TV.

Aku ke Linda biasa saja. Linda ke Fahni biasa saja. Nanto juga apalagi. Kita makan japanese food. Tapi tidak ada yang pesan sushi, karena kita berempat sama-sama tidak suka ikan mentah. Kami bicara tentang pekerjaan. Saling berbagi keluh kesah ditempat kerja. Juga gosip. Kami saling bertukar gosip teman kami yang seangkatan. Berhaha-hihi.

Kami makan lalu mengobrol sampai jam setengah sepuluh. Restoran Jepang tempat kita makan yang tadi sore sangat ramai, sekarang sudah sepi. Karena kita berempat sepakat bahwa kami belum puas mengobrol, kami pindah tempat ke café 24jam.

Aku pesan latte panas. Nanto pesan cappucino dingin. Aneh pikirku, dingin-dingin minum dingin. Fahni pesan hot chocolate, tidak begitu suka kopi katanya. Linda pesan espresso. Diminum dengan krimer tanpa gula. Wow, lebih aneh lagi pikirku. Karena penasaran, aku coba. Asam, tapi dia benar, lumayan enak. Dia nambah sampai empat kali. Kami berhaha-hihi lagi, lalu berfoto. Sampai jamku menunjukkan setengah satu lebih sedikit, Nanto dan Linda baru setuju untuk pulang.

Semuanya biasa saja. Tak ada yang spesial. We're just old friends, good old friends yang sudah lama sekali tidak ketemu. Despite of this banging rhythm of my heart, circulating through my blood veins to every part of my body, nothing special at all. Gosh, I will never see the television the same way again.


Thursday, May 12, 2005

Sifat Dasar 1: Ingin.

 

Tapi kau belum memilih

Walau kau katakan kau menyukainya, menyayanginya

Hubungan ini seperti sebuah jebakan,

yang akan mendorong siapapun yang mulai mendapatkan petunjuk

bahwa salah satu dari kita bukan pilihan

 

Masih ada keinginan dalam diri untuk petualangan

Merasakan denyut yang baru, merasakan keindahan asing,

Namun seperti menyedot ketertarikan, cantik sekali

Inilah cinta, pada sesuatu yang sama sekali belum kutahu

 

Aku ingin merasa, wahai kau asing, inilah cinta kepadamu

 

Ketidaktahuanku menjadikan cinta ini begitu besar

Kalau aku mulai tahu mungkin cinta ini berkurang,

Mungkin bertambah, siapa yang tahu, mugkin hilang

 

Dari dahulu aku ingin menggapai dan menikmati cinta

Tapi mungkin cinta itu tidak dapat dinikmati karena

Cinta itu keinginan, keinginan untuk merasa

Itu yang menyebabkannya begitu indah, begitu menarik

Ketidaktahuan menciptakan idealisasi

Keindahan yang luar biasa menakjubkan, karena kita tidak tahu seperti apa, rasanya

Kita belum pernah merasakannya

 

Dan ingin adalah sifat dasar manusia yang paling mencelakakan

Sekaligus paling membahagiakan

 

CINTA ITU JEBAKAN TUHAN PALING SEMPURNA

BAGI MANUSIA YANG TIDAK PERNAH SEMPURNA

 

CINTA ITU JEBAKAN

 

Sebenarnya penentuan pasangan hidup itu sama sekali tidak didasarkan pada cinta, melainkan sudah digariskan takdir. Pernah dengar ungkapan "Jodoh itu di tangan Tuhan?" Cinta itu jebakan untuk melakukan proses hidup. Cinta itu tenaga pendorong. Cinta itu mendorong kesadaran, menghalangi kesadaran murni untuk keluar dari rute proses hidup. Kesadaran murni mengatakan manusia bisa lebih pintar dari itu. Manusia bisa berhenti dari penderitaan yang dihasilkan cinta dengan loncat keluar dari rute dan berhenti berkeinginan. Mati. Bukan keinginan untuk mati. Mati itu bukan keinginan. Mati itu berhenti Ingin.

Tapi mati oleh diri sendiri itu dilarang oleh Tuhan. Dan Tuhan itu Ada, Nyata, begitu pula dengan peraturan-Nya. Bisakah kita tetap hidup dengan membunuh cinta? Membunuh cinta itu tidak dilarang, lho. Inikah rahasianya? Inikah rahasia hidup kebahagiaan? Berhenti berkeinginan, berpuas dengan yang Ada.


Friday, April 08, 2005

 Pasar Merah  

 

          Saya punya cerita. Sebuah cerita terlupakan yang menurut saya penting untuk diceritakan. Saya baru ingat akan cerita ini saat terbangun pagi ini karena mimpi, tentang kejadian itu. Biasanya susah sekali mengingat mimpi saat terjaga. Yang saya ingat cuma kesannya, apakah, oh mimpi indah, jadi saya merasa senang saat terjaga, tanpa ingat mimpi apa. Begitu juga kalau mimpi buruk. Tapi kali ini saya ingat. Dan kejadian yang teringat kembali dalam mimpi saya itu nyata. Terjadi sekitar empat tahun yang lalu. 

            Saat terbangun pagi ini, saya baru bisa mencerna kejadian itu. Mungkin saat saya mengalaminya, otak saya belum bisa menangkap atau mengerti. Kali ini, otak saya rasanya sudah siap, baik untuk mencerna dan mengerti sendiri kejadian itu, juga untuk menceritakannya kembali. Entah kenapa, saya merasa cerita ini penting sekali untuk diceritakan, untuk dibagi-bagi. Entah karena keanehannya, atau karena susahnya bangun dari mimpi ini. Ya, saya mengalami eureup-eureup tadi pagi. Saya sadar kalau saya sedang bermimpi, dan ingin sekali bangun. Tapi tidak bisa. Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa. Di dalam keadaan setengah sadar setengah mimpi itu, rasanya mata saya sempat terbuka dan melihat interior kamar saya, sebelum ditenggelamkan lagi ke alam mimpi. Di kamar saya itu, saya merasa harus melihat ke kanan, tapi seperti tidak boleh karena ada sesuatu yang tidak boleh saya lihat (juga tidak boleh dilihat oleh manusia lain). Setelah membaca-baca ayat-ayat shalat dan dzikir (hanya itu yang saya hafal) selama beberapa saat, mungkin beberapa menit (yang terasa seperti seabad), saya baru berhasil terbangun. Dengan tubuh yang lelah. Seperti baru selesai lari keliling gasibu. Saya tidak ingin lagi melihat ke kanan, karena sudah tahu tidak ada apa-apa. Tapi sudahlah, sepertinya pengantar ceritanya kepanjangan. Saya mulai saja ceritanya.

            Suatu hari saya melihat sebuah brosur dengan warna-warni menarik tergeletak di ruang tamu. Kata ibu brosur itu datang dalam sebuah amplop dengan nama ayah tercetak di atasnya. Sepetinya iklan perjalanan wisata kata ibu. Ibu juga belum baca. Aku boleh baca, Bu? Boleh aja. Asyik. Kubuka brosur itu. Halaman pertama dari ujung ke ujung penuh oleh gambar sebuah pulau kecil di tengah laut yang seperti digambar dengan krayon dengan sebuah logo kecil di sudut kanan. Kurasa logo biro wisata. Halaman kedua berisi tulisan-tulisan dengan gambar-gambar kecil pepohonan dan pantai yang difoto dengan cantik. Aku iseng baca.

Bayangkan Anda berada di sebuah pulau tak berpenghuni, jauh dari keramaian. Bayangkan Anda berada dalam keindahan pantai yang bercahaya dan hutan yang teduh, untuk Anda sendiri.

Bayangkan ketenangan luar biasa dan kenyamanan sinar matahari pantai, untuk Anda sendiri!

Bayangkan Anda bersama kekasih bermesraan di pantai, tanpa perlu takut ada yang melihat.

Bayangkan Anda bersama keluarga menikmati taman bermain alami tanpa harus berbagi dengan keluarga lain.

     Semua itu dapat Anda peroleh tanpa susah payah mencari makan sendiri dan tidur di hutan terkena terpaan angin. Tanpa perlu memanjat pohon kelapa atau memancing ikan dengan tombak.

     Sebuah resor fantasi di tengah pulau kecil yang menjadi kenyataan, dimana Anda bisa bersantai sendiri ataupun bersama orang yang Anda sayangi dengan kenyamanan hotel berbintang, tanpa bantuan pelayan.*

     Anda akan menikmati resor yang lengkap dengan fasilitas. . .

 

            Stop. Saya sudah bosan membaca. Kemudian saya membuka-buka brosur itu dan melihat gambarnya saja. Entah karena teknik fotografi yang bagus atau bukan, pantainya memang indah, dan di pesisir airnya jernih, tidak seperti di Pangandaran yang airnya coklat. Pohon kelapa yang tertata rapi di sepanjang ujung pasir pantai, seakan membatasi antara pantai dan hutan dibaliknya. Tidak terlihat perahu, tukang jualan, ataupun sesosok manusiapun di gambar itu. Harus kuakui, perjalanan wisata yang ditawarkan brosur ini berbeda dengan yang lain. Tidak biasa.

Rumah (yang disebutnya resor) yang diceritakan itu bukan seperti hotel mewah ataupun villa di puncak. Lebih seperti rumah orang jaman dulu yang terbuat dari kayu yang bercahaya. Bentuknya seperti rumah tradisional, tapi lebih apik dan indah. Lampu di dalam rumah itupun antik, berpendar menyebarkan warna kuning yang terang. Yang agak beda kamar mandinya. Seperti rumah modern, kamar madinya dihiasi kloset keramik dan bathtub lebar marmer hitam mengkilap dan handle keemasan. Entah kenapa melihat rumah itu saya jadi tidak tertarik. Saya taruh lagi brosur itu di meja ruang tamu.

Keluarga saya jarang berlibur. Ayah bekerja di sebuah perusahaan internasional (saya tahu dari dokumen-dokumen beliau yang semuanya berbahasa Inggris) dan bekerja 5 hari seminggu dari pagi sampai malam. Hari Sabtu dan Minggu pun ayah kadang main golf atau bertemu teman atau siapalah. Saya sering iri mendengar cerita saudara sepupu tentang liburan mereka ke pantai, ke villa, atau ke luar negeri. Tapi saya tidak pernah bilang kalau saya iri. Saya diam saja mengangguk-ngangguk pura-pura tidak tertarik. Ibu sudah sering mengajak ayah berlibur atau main kemana (selain ke mall dan ke kolam renang) tapi tidak pernah bisa karena banyak pekerjaan. Ibu sampai-sampai menjadi skeptis dan bingung bagaimana caranya mengajak ayah. Tapi ibu pantang menyerah. Ibu jadi sering membawa brosur perjalanan wisata, dan diletakkan di berbagai tempat, meja kerja ayah, meja makan, ruang tamu, juga di kamar mandi, di antara tumpukan majalah di sebelah kloset. Belakangan, ibu membuat rumah kami jadi sering dikirimi brosur perjalanan wisata.

Beberapa minggu berlalu, dan besok kami akan berangkat. Berlibur. Akhirnya usaha ibu menunjukkan hasil. Ayah tertarik dengan pulau pribadi yang ada di brosur yang saya baca waktu itu. Saya antara senang dan tidak senang. Di antara banyak pilihan liburan yang normal-normal dan terdengar lebih menyenangkan, ayah malah memilih yang itu. Kata ibu, ayah kayaknya penat sekali sama rutinitas pekerjaannya yang harus bertemu banyak orang, dengan waktu mayoritas dihabiskan di jalan raya. Di tengah jalan raya yang macet. Salah satu alasan ayah malas berlibur adalah keramaian. Ayah tidak suka berada di tempat yang ramai. Bagaimanapun juga saya ikut senang, sudah lama sekali tidak berlibur.

Hari ini Ibu repot sekali, mulai dari mengecek barang-barang bawaan, menasehati para pembantu dan satpam agar berhati-hati menjaga rumah, memberitahu berapa kali Ketie, kucing kami yang putih harus makan, kapan harus Mario (kucing kami yang kuning putih) mandi, dan tidak lupa memberi uang berlebih untuk beli gas, air mineral, telur dan jaga-jaga kalau ada apa-apa. Malam itu, saya tidak bisa tidur, tidak sabar menunggu besok.

Kami berangkat naik pesawat besar satu kali, naik bis dua kali, lalu naik yacht satu kali. Di dalam yacht ini cuma ada saya, ayah dan ibu, dan dua awak kapal. Saya belum pernah naik perahu, apalagi yacht. Dan pengalaman pertama ini cukup berkesan. Lautan yang sebelumnya cuma bisa kupandangi dari pantai, sekarang bisa kunaiki. Rasanya aneh, melihat ke semua arah, air semua. Aneh, tapi juga indah. Kilau yang dipantulkan di tengah air laut jauh lebih indah daripada yang di pantai. Lebih jernih dan berkilau. Lantai yang saya pijak juga tidak bisa diam, bergoyang-goyang terus. Walaupun hanya bergoyang sedikit, tapi cukup untuk membuat saya muntah tiga kali.

Setelah beberapa jam menghabiskan waktu dengan mendengarkan lagu dari walkman yang sudah berulang beberapa kali, dan sudah ganti batere Alkaline dua kali, akhirnya pulau itu terlihat. Dari kejauhan, pulau itu tipis tapi panjang. Lama kelamaan pulau itu membesar. Kesan pertama: lengang. Sepertinya benar-benar tidak ada siapa-siapa. Wajah ayah terlihat sangat puas ketika menjejakkan pertama kali di pulau itu. Cuma ada dua orang berpakaian santai bertopi jerami yang menyambut saat kami turun. Mereka menyalami ayah, lalu ibu. Rumah yang waktu itu kulihat di brosur, benar-benar terletak di tengah hutan. Untuk mencapainya kami harus berjalan sekitar dua puluh menit. Untung barang bawaan kami dibawakan oleh orang-orang itu dengan semacam gerobak beroda. Hutannya tidak seperti yang kubayangkan, juga tidak seperti yang di brosur. Pohon-pohon tidak tumbuh rapi di sepanjang pantai. Dari dekat, pohon-pohon itu seperti tumbuh liar tanpa ditata. Sepanjang perjalanan kami ke rumah itu, kulihat banyak tanaman-tanaman besar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanaman yang berdaun seperti daun palem besar menarik perhatianku. Daunnya seperti palem, besar-besar, tapi pohonnya pendek, hanya sepinggang. Di dekat pantai pohonnya didominasi oleh pohon kelapa. Mulai agak masuk ke dalam, terlihat pohon-pohon besar berakar besar pula, jenis pohon hutan hujan tropis (aku tahu dari Discovery Channel), meskipun agak jarang. Sudah ada jalan setapak yang dibuat, tapi hanya satu, menuju rumah tempat kami tidur nanti. Jalan setapak itu tidak bercabang.

Rumah itu lebih kecil dari yang dibrosur. Kira-kira seukuran villa ayah di Puncak yang jarang dikunjungi. Cukup hanya untuk satu atau dua keluarga. Bedanya, yang ini terbuat dari kayu mengkilap. Di depan rumah kami disambut oleh seorang ibu, tidak, nenek yang tersenyum. Saya menaiki tangga yang menuju pintu besar dengan pegangan pintu lingkaran besi keemasan yang digantungkan. Di dalam, rumah ini terkesan besar, lengang. Furnitur di dalam sedikit tapi besar-besar. Lampu besar bercabang delapan dari besi berwarna emas tergantung di rantai, ditutupi oleh tudung kaca putih dimasing-masing lampu. Terlihat warna putih (sepertinya jaring laba-laba) menyelubungi beberapa bagian rantai, seakan sudah tergantung disitu sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Meja lesehan besar terletak di salah satu sudut ruangan dengan bantal-bantal tempat duduk mengelilinginya. Di sebelah kanan ruangan ada alat pembuat kopi sebesar mesin jahit ibu yang dulu. Di sebelahnya ada lemari kayu, tinggi besar, tua, yang saya tidak tahu apa isinya. Di sisi kiri, sebelum pintu-pintu yang menuju ke ruangan lain, terletak lemari-lemari pendek yang berisi hiasan-hiasan tua dan piring gelas untuk dipakai. Saya agak lega karena tidak melihat jam besar tua yang dapat berbunyi ding-dong-ding-dong. Sejak kecil saya takut oleh suara jam seperti itu. Tidak ada TV di ruangan ini. Tidak ada lukisan, tidak ada kursi. Lengang.

Kami diajak melihat ruangan kamar yang tersedia. Ada empat buah kamar tidur. Saya tersenyum ketika masuk ruang kamar pertama, yang paling besar. Tempat tidur spring bed ukuran double, televisi 29 inchi, kulkas ukuran besar, dan telepon satelit. Kulkasnya tidak kosong. Penuh oleh makanan dan minuman, tidak lupa anggur dan sampanye. Kubuka freezer. Ada enam kotak besar es krim yang ditumpuk. Di sebelah kulkas, ada lemari kaca yang berisi makanan-tinggal-buka-langsung-makan berbagai macam. Di pintu kaca yang kedua, isinya buah-buahan. Di bagian paling bawah, ada juicer, blender, juga mesin kopi kecil. Di salah satu sudut, teronggok lemari baju yang ketika dibuka ada empat buah handuk tertata rapi bersama peralatan mandi mini di dalamnya. Kamar mandi ada di dalam. Ibu memeluk ayah. Kurasa mereka akan tidur di kamar yang ini. Kami beranjak ke kamar kedua. Ukurannya sedikit lebih kecil dari yang pertama. Isinya hampir sama, bedanya tempat tidur ukuran single, dan tidak ada kamar mandi dalam. Ah, yang penting kulkas dan TV-nya sama besar, pikir saya sambil tersenyum senang, memikirkan es krim bertumpuk di dalam freezer. Saya langsung coba rebah mencoba tempat tidurnya. Saya lelah sekali. Badan ini rasanya seperti diremas-remas. Tanpa sadar, saya pun terlelap seketika.

Sayup-sayup terdengar suara laki-laki dari luar kamar, "Nanti saya jemput tiga hari lagi ya, Pak… Kalau ada apa-apa telepon saja…"

Kata ibu saya tertidur hampir sehari semalam. Saya terbangun karena rasa lapar, menyadari bahwa saya tidak sedang berada di Jakarta, tidak di dalam kamar saya yang bercat biru dan penuh akan poster. Oh iya, kita kan lagi liburan. Saya tersenyum sendiri. Saya buka kulkas dan melahap makanan yang pertama kali terlihat dengan rakus. Hari sudah sore. Kulihat jam di handphone saya, pukul setengah tiga. Hei, disini tidak ada sinyal! Ah, tapi kan ada telepon satelit di kamar ayah.

Ibu entah dari kapan duduk di kamar saya. Katanya, ayah sudah di pantai sedari pagi, sendirian. Sedari tadi ibu menunggui saya yang tidak bisa dibangunkan. Ibu bilang mau ke pantai, membawa makanan untuk ayah. Ibu bertanya apakah saya berani ditinggal sendirian, ataukah mau ikut. Saya yang belum sepenuhnya sadar, mengangguk, dan mengatakan iya, nggak apa-apa.

Setelah puas makan, saya segera membuka freezer dan melahap es krim langsung dari kotaknya. Baru habis setengah, saya sudah kenyang. Saya terdiam. Duduk di lantai kayu. Sepi sekali. Yang ada hanya suara angin menerpa pepohonan di luar. Saya mencoba menyalakan TV. Tidak ada gambarnya. Kupikir ah mungkin belum diset salurannya. Saya lalu mencoba mencari channel secara manual. Sampai tiga kali bolak-balik, UHF, VHF, UHF, VHF. Tetap tidak ada gambarnya. Sial. Sinyal TV-nya tidak tertangkap di sini. Bodoh sekali yang mengurus tempat ini. Ada TV 29 inchi tapi tidak bisa ditonton.

Saya keluar kamar. Badan dan muka saya terasa lengket, tapi saya malas sekali mandi. Saya baru sadar kalau di rumah ini tidak ada siapa-siapa. Perjalanan wisata ini menjanjikan pulau pribadi, yang berarti benar-benar pribadi. Rumah yang mereka bilang resor ini juga tidak dilengkapi satu pun pelayan. Sepi…

Saya memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumah saja. Saya berjalan mengelilingi rumah. Pohon, pohon, dan pohon. Sampai kaki saya menjejak tepat di belakang rumah. Hei, ada jalan setapak! Saya pikir jalan setapak cuma ada dari tempat kami turun dari yacht sampai ke rumah. Ternyata di belakang rumah juga ada jalan. Saya iseng berjalan menyusuri jalan setapak itu. Toh tidak akan tersesat, sudah ada jalan yang jelas. Kalau ada percabangan jalan, tinggal ditandai dengan batu pikirku.

Kesendirian yang ditawarkan oleh tempat ini ternyata menyenangkan juga. Lebih tepatnya, menenangkan. Sepanjang jalan saya tidak melihat monyet atau binatang lainnya. Cuma ada serangga dan burung. Tanpa sadar sudah hampir satu jam saya berjalan. Saya tahu karena saya membawa handphone, yang sekarang berfungsi hanya sebagai penunjuk waktu. Mungkin sudah saatnya saya berbalik dan berjalan pulang.

Baru saja saya membalikkan badan, terdengar suara. Suara manusia. Saya berusaha menajamkan telinga.

Ardii…             Ardii…             Ardiii…

Hei! Suara itu seperti menyebut namaku! Ah, mana mungkin! Suaranya tidak seperti suara ayah maupun ibu. Suara laki-laki. Bulu kuduk saya berdiri seketika.

Ardii…             Ardii…

Suara itu semakin mendekat. Saya di antara ingin balik badan lagi dan mencari sumber suara, dengan cepat-cepat lari kembali ke rumah, atau mencari ibu sekalian.

Ardiiii…

Suara perempuan! Tadi suara laki-laki, sekarang suara perempuan! Artinya ada dua, mungkin lebih! Tapi, hei, suara itu sepertinya kukenal. Sekarang, suaranya sangat dekat. Kaki saya kaku. Tidak mau bergerak ke depan ataupun ke belakang. Sampai tangan itu menyentuh bahu saya.

WAAAAAAAAAA!!!!!!!! Aku berteriak sekeras-kerasnya.

"Woi! Kenapa sih, kamu teriak-teriak!"

Saya kenal suara itu. Saya beranikan diri menengok ke belakang, ternyata kedua sepupu saya! Saat itu adalah saat paling melegakan dalam hidup saya.

"Hei! K k kok ada di sinii?!?!" tanyaku heran, sangat heran.

"Hahaha! Lu sih sombong mau jalan-jalan ga ajak-ajak, kita juga kan pengen jalan-jalan ke pulau pribadi. Hahahaha."

Kedua sepupu saya ini adalah sepupu yang kuceritakan sebelumnya, yang sering sekali jalan-jalan ke pantai, ke gunung, atau ke luar negeri, dan saya hanya kebagian ceritanya.

Saya tidak bisa menyembunyikan kebingungan saya. Akhirnya mereka menjelaskan, kalau di pulau ini itu tidak cuma ada satu rumah, tapi ada dua. Setelah orang tua mereka tahu bahwa saya dan keluarga kesini, mereka menyusul, ingin mengejutkan saya dan keluarga. Mereka berdua katanya sedang berjalan menuju rumah, untuk mengejutkan kami. Tapinya taunya eh, malah ketemu Ardi di jalan. Letak dari rumah yang mereka tinggali katanya terletak agak jauh dengan rumah kami, di sisi lain dari pulau ini.

Sambil bercerita dan tertawa-tawa mereka menuntun saya ke arah yang semakin menjauh dari rumahku. Saya yang bingung, segera bertanya, "Eh, sebenernya kita mau kemana sih?"

"Ke pasar."

"Pasaar?" Saya tambah bingung.

"Jangan bilang kamu nggak tahu kalo disini ada pasar…"

Aku menggeleng perlahan. "YA AMPPUUUUNN!!! Kamu bener-bener nggak tahu apa-apa, ya? Di pulau ini juga ada pasar, tempat jualan segala macem! Kita juga belum tau sih jualan apa aja, tapi makanya ayo kita liat! Si kakek yang jaga rumah yang kasih tau kita."

Mulut saya menganga. Di sini? Ada pasar? Yang benar? Karena terlalu bingung, saya tidak bertanya apa-apa lagi. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai. Pasar yang mereka ceritakan benar-benar ada! Warna dominan yang kulihat di pasar itu adalah merah, entah karena kayu-kayu kemerahan yang dipakai untuk membangun kios-kios di sini, atau karena warna langit sore yang berwarna merah. Lampu-lampu kuning yang tergantung di kios menambah suasana remang merah yang mewarnai area ini. Tak bisa kupercaya, ditengah hutan, di pulau terpencil, ada sebuah area pasar besar yang sebegini menarik! Kami pun berkeliling. Sebagian besar kios menjual berbagai macam ikan hasil laut, sebagian lagi menjual sayuran. Kami bertiga terus berjalan menyusuri kios-kios di bagian sebelah kiri. Di sini menjual pernak-pernik hiasan rumah terbuat dari kerang dan hasil laut lainnya. Ada juga gelang-gelang, kalung, cincin, dan berbagai hasil kreatif lainnya. Pasar ini tidak begitu ramai, hanya beberapa saja yang berpapasan dengan kami, orang-orang yang wajahnya sulit saya ingat. Kami bertiga belum ada yang tertarik untuk mengunjungi kios dan membeli sesuatu.

Setelah berputar ke bagian tengah, ada satu kios tertutup, lebih seperti rumah kecil tapi memanjang, yang juga berwarna merah redup. Dari luar terlihat orang lalu lalang, tidak padat, namun lebih banyak daripada yang di bagian depan pasar. Kami tertarik untuk masuk. Sepertinya ada sesuatu yang menarik dijual di dalam. Sepupu saya yang laki-laki dan lebih tua, punya pikiran curiga, katanya, jangan-jangan mereka menjual obat-obatan terlarang. Tapi ditepis oleh saya dan sepupu saya yang perempuan. Kami bertiga memutuskan untuk nekat masuk. Kios panjang itu dibantu dengan penerangan seadanya, lampu-lampu kuning yang membuat suasana merah-kuning redup semakin terasa.

Siapapun tak akan percaya apa yang dijual di dalam. Coba tebak tiga kali, pasti salah semua. Penasaran? Mereka menjual handphone!!! Tidak seperti di pusat perbelanjaan, gerai-gerai mereka tidak menggunakan kotak kaca apalagi etalase untuk memamerkan jualannya. Mereka menaruh jualannya di atas tikar dan kain seadanya diatas tanah. Kedua sepupu saya yang suka sekali gonta-ganti handphone, langsung melonjak senang melihat ada satu kios panjang penuh menjual berbagai macam handphone baru! Tunggu sampai mereka bertanya harganya. Dengan pura-pura tidak tertarik, sepupu saya yang laki-laki membisikkan sejumlah angka yang katanya tidak sampai seperempat dari harga resmi di pusat perbelanjaan di kota. Setelah berputar melihat-lihat sebentar, kami terjongkok di depan seorang penjual yang koleksi handphone-nya paling banyak. Dapat terlihat dari wajah kedua sepupu saya, mereka berminat sekali untuk membeli. Saya tahu, ditengah barang jualan itu, ada dua buah handphone yang sangat diinginkan oleh mereka. Handphone terbaru, tercanggih, tertipis yang pernah ada.

Saya masih heran akan keajaiban ini, ada penjual handphone murah di tengah pulau terpencil! Saya terus gelisah dan bertanya-tanya, sampai sepupu saya yang laki-laki membisikkan sesuatu yang logis ke telinga saya. "Kayaknya handphone ini semuanya selundupan, jadi dijualnya sembunyi-sembunyi! Jadi pasar ini cuma untuk orang-orang yang tahu saja!" Masuk akal memang. Sebuah tempat penjualan handphone selundupan yang hanya diketahui oleh segelintir orang, yang membeli untuk dijual lagi di kota. Cahaya kemerahan yang terus-terusan menerpa mataku mengaburkan rasa kepenasarananku dan mencegah untuk bertanya lebih lanjut.

Tanpa ba-bi-bu, mereka berdua yang membawa cukup uang, langsung memegang handphone favoritnya dan mencoba menyalakannya. Anehnya, handphone yang dijual disitu ada sinyal! Sedang handphone saya yang masih teronggok disakuku tidak ada sinyal sama sekali. Mungkin handphone saya yang rusak. Setelah meneliti fungsi-fungsi di dalamnya beberapa saat, mereka berdua memutuskan untuk membeli. Si penjual secara bisik-bisik memberitahu sesuatu kepada kedua sepupu saya. Saya tidak dengar. Sempat saya tergiur untuk ikut membeli. Saya juga membawa uang. Ah, tapi tidak, rusak atau tidak, handphone disaku saya pasti masih bisa nyala dan kalau rusak pun pasti bisa dibetulkan, toh paling cuma masalah sinyal saja.

Sepupu saya yang perempuan setelah membayar bertanya kepada si penjual, tidak ada kotaknya? Tidak ada. Tapi dijamin jalan kok, neng, asal… Si penjual menunjuk-nunjukkan jarinya, sepertinya untuk mengingatkan sepupu saya akan pesan yang tadi dibisikkan.

Saya mengeluarkan handphone saya sedikit, hanya untuk melihat jam berapa. Sudah jam setengah tujuh! Saat saya memasukkan kembali handphone ke dalam saku, dan mendongak, saya merasa seperti semua penjual di dalam kios itu menatap tajam ke arah saya, entah kenapa. Saya bergidik. Saya mengajak kedua sepupu saya cepat-cepat ke luar, terus langsung pulang. Mereka berdua memasukkan handphone barunya ke saku, dan tidak mengeluarkannya lagi.

Kami keluar kios itu, lalu menyusuri lagi pasar tadi. Langit sudah menjadi lebih gelap, walau warna merah masih ada, dan masih terpantul dari tanah di pasar itu. Mereka berdua sepakat mengantarkan saya ke rumah saya, lalu menelepon Om Tomo, ayah mereka, dari telepon satelit di rumah, memberitahu bahwa mereka berdua akan menginap di rumah tempat keluarga saya. Karena hari sudah beranjak gelap, mereka memutuskan untuk pulang besok pagi saja.

Malam di hutan jauh lebih gelap daripada malam di tempat tinggal saya di Jakarta. Saya sedikit takut, namun hilang saat melihat kedua sepupu saya berjalan mengapit saya dari kiri dan kanan. Karena penasaran, saya bertanya pada mereka berdua tentang yang tadi dibisikkan si penjual.

Sepupu saya yang laki-laki menjawab. "Ohh, itu. Tadi dia bilang kamu jangan pamer-pamer handphone ini, terus kalau ditanya apa-apa soal handphone ini, dan orang bilang apa saja tentang handphone ini, kamu nggak usah jawab, nggak usah komentar apa-apa. Gitu doang."

Sepupu saya yang perempuan lalu menimpali. "Mungkin dia nggak mau tempat jualannya diketahui sama orang banyak kali. Takut digerebek polisi!"

"Iya, kali ya." Sepupu laki-laki membenarkan. "Tapi dia bilang, kalau sampai kita pamer-pamer atau menimpali orang yang komentar soal hape kita, resikonya berat. Apa ya maksudnya?"

"Iya. Apa ya maksudnya? Malah kalo ke aku dia bilang nanti bisa ilang loh. Ah, cuma nakut-nakutin aja kali ya, biar kita nggak kasi tau dimana belinya!"

"Hahahahaha…" Mereka berdua tertawa berbarengan. Entah kenapa saya merasa tidak ingin tertawa. Saya rasa itu tidak lucu. Sepanjang perjalanan kami menuju rumah setelah itu, dilalui dengan jalan cepat menyusuri jalan setapak yang jelas dan tidak bercabang, diterangi sinar bulan yang cerah. Namun perjalanan itu tetap saja terasa lebih jauh daripada saat aku berangkat sendirian tadi sore.

Sampai rumah, ibu langsung pasang tampang marah. Tapi begitu melihat sepupu, ibu tidak meneruskan marahnya. Ibu kaget, heran, lalu bertanya macam-macam. Mereka lalu mengobrol. Kaki saya pegal sekali. Saya langsung masuk kamar, rebah, lalu terlelap lagi. Lama sekali.

Lagi-lagi saya terbangun oleh suara ibu. Saya tertidur lama lagi. Kali ini ibu membangunkan saya karena kami sudah mau pulang ke Jakarta. Artinya saya tertidur sehari semalam lagi. Liburan berlalu begitu saja. Ah, sial sekali, pikir saya. Tiga hari liburan habis oleh tidur. Barang-barang saya sudah dibereskan oleh ibu. Saya tinggal berangkat.

Kami sekeluarga naik yacht yang sama dalam perjalanan pulang. Ibu tampak bahagia sekali. Di perjalanan, ibu memeluk ayah terus-menerus. Saya hanya tersenyum saja. Samar masih saya ingat pasar di tengah hutan yang saya kunjungi kemarin lusa. Sepupu saya pasti sudah cerita ke ibu dan ayah. Ternyata pulau pribadi itu tidak terlalu pribadi juga. Bisa-bisa ayah menuntut biro perjalanan itu, karenanya. Saya tergelak sendiri.

Kali ini saya tidak mabuk laut lagi. Saya sudah terbiasa. Mungkin karena tidur saya kemarin yang nyenyak sekali. Badan saya juga terasa segar. Perjalanan pulang ini saya nikmati dengan melihat garis batas laut dan langit dengan suasana hati ayah dan ibu yang tanpaknya sudah segar kembali, lepas dari kepenatan, siap untuk menerima siksaan pekerjaan dan hiruk-pikuk ramainya perkotaan lagi.

Tidak lama kami sampai di daratan. Kami bertemu dengan keluarga sepupu, dan naik bis yang sama. Saya dan kedua sepupu duduk di garis tempat duduk bis yang sama. Hai. Hei. Hai. Kami berbalas sapa. Setelah bis mulai bergerak, sepupu saya yang perempuan merogoh saku jaketnya, seperti sedang mengambil sesuatu. Ia lalu mengangkat tangannya dan mendekatkannya ke wajahnya. Jempol kanannya seperti sedang memencet-memencet tombol, seakan sedang memeragakan sedang mengetik sms di handphone. Tapi tidak ada apa-apa ditangannya. Saya tersenyum, sepertinya ini lelucon baru mereka berdua. Sepupu saya yang laki-laki juga melakukannya. Ia merogoh saku celana pendeknya, lalu jarinya bergerak seperti sedang membuka flip handphone, kemudian menaruh kedua tangannya di lutut. Kedua jempol tangannya bergerak-gerak, seperti sedang memainkan game yang seru. Mereka berdua sepertinya sedang mempermainkan saya. Saya tersenyum saja.

Waktu berjalan terus. Saya selama perjalanan tidak bisa tidur, mungkin karena sudah terlalu lama tidur kemarin. Lama-lama bosan terus-terusan terdiam melihat ke luar jendela. Sudah sekitar dua jam mereka begitu terus. Lama-lama lelucon mereka jadi tidak lucu lagi.

"Heh! Kalian ngapain, sih!" tanyaku yang mulai kesal, juga bingung melihat perilaku mereka yang seperti sedang memainkan handphone selama dua jam non-stop. Sepupu yang laki-laki mendengus. "Kamu nggak lihat apa…"

"Kamu sih, waktu itu kenapa nggak beli, jadi bosen kan gak ada kerjaan gitu. Kalo ada handphone canggih gini kan mana mungkin bosen." Sepupu yang perempuan tersenyum. Jempolnya masih bergerak-gerak. Kadang ia tertawa-tawa sendiri. Saya langsung merasa seperti orang bodoh. Saya yang bodoh atau mereka yang bodoh? Saya yang gila atau mereka yang gila?

"Kalo ini joke kalian, kayaknya udah nggak lucu lagi deh. Kalian ngapain sih kayak orang gila pura-pura lagi mencet-mencet handphone gitu?"

Mereka berdua tersenyum. Sepupu yang perempuan nyeletuk tanpa mengangkat kepalanya dari tangannya yang bergerak-gerak, "Kamu sirik aja kan sama handphone kita. Nyesel kan waktu itu nggak beli?" Hhahahahaha. Mereka berdua tertawa berbarengan.

"Heh! Di tangan kalian itu nggak ada apa-apa! Kalian ngapain pura-pura mencet-mencet gitu?! Gila apa?! Kok jadi nggak nyambung gitu jawabnya! Saya nggak nyesel kok nggak beli! Yang ini juga masih jalan!" Saya lalu menunjukkan handphone saya. Saat itu saya baru sadar kalau handphone saya tidak rusak. Sinyalnya penuh.

"Hahahahahaha. Handphone kuno layar monochrome aja dibangga-banggain!"

"Kalian bisa liat handphone saya?" tanyaku.

"Ya bisalah!!!" jawab mereka serempak.

"Saya nggak bisa liat handphone kalian…"

Mereka lalu terdiam. Lalu menatap saya. Selama lima detik mereka melepaskan pandangan dari tangan mereka yang tidak menggenggam apa-apa.

"Hahahahaha. Kamu cuma iri."

 Saat itu saya mulai sadar, kalau mereka mungkin tidak sedang bercanda. Bulu kuduk saya berdiri serempak di seluruh bagian tubuh. Air mata ngeri keluar dari ujung mata saya. Teringat pembicaraan dengan mereka saat berjalan bertiga di kegelapan malam. Teringat pesan penjual handphone pada mereka. Tidak ada yang bisa saya lakukan atau katakan pada mereka saat ini. Jam-jam berikutnya saya lalui dengan perasaan bingung, ngeri dan kasihan terhadap mereka berdua, kalau-kalau mereka benar-benar... Memikirkannya saja saya sudah ngeri.

Di pesawat untungnya saya tidak duduk di sebelah mereka. Bisa-bisa gila melihat jari-jari mereka yang terus bergerak tanpa memencet apa-apa. Setelah pesawat take-off dan kami dibolehkan untuk melepaskan sabuk pengaman, ayah tukar tempat duduk dengan Tante Kruni. Di sebelah saya jadi ada ibu dan Tante Kruni yang sedang mengobrol.

"Itu anak-anak kenapa ya. Seharian ini terus-terusan kayak yang lagi mencet-mencet sesuatu di tangan. Padahal nggak ada apa-apa, lho!"

Ibu terdiam sebentar sebelum menjawab, "Ah, mungkin lagi merajuk. Mereka pengen dibeliin handphone baru kali!"

"Mas Tomo juga bilang begitu. Tapi aneh ya tingkahnya anak-anak kalo lagi pengen sesuatu! Capek juga lihat mereka begitu seharian. Memang udah lama sih mereka minta ganti handphone, tapi gak pernah dibolehin sama bapaknya. Nanti aku beliin deh handphone baru begitu sampe Jakarta. Hahaha."

Bulu kudukku berdiri lagi. Tante Kruni juga tidak melihat handphone di tangan mereka. Itu meyakinkanku bahwa bukan aku yang gila.

Seminggu sudah berlalu. Aku kembali bersekolah, ayah kembali sibuk bekerja, dan sekarang ibu sibuk ke dokter hewan mengobati Mario yang sakit karena salah dikasih makanan oleh pembantu. Malam ini akan ada arisan keluarga, yang berarti saya dan sepupu-sepupu akan bertemu. Apa yang terjadi dengan mereka ya? Apa mereka masih 'begitu'?

Om Ade, paman yang masih lajang datang paling pertama ke rumah, dan membuyarkan lamunan saya di depan TV. Setelah berbasa-basi bertanya tentang sekolah saya dan ada pekerjaan rumah atau tidak, Om Ade mengungkitnya. Ia bertanya tentang kebiasaan aneh sepupu. Aku tidak bisa bilang apa-apa. Om Ade cerita, setiap mereka ditanya sedang apa dan kenapa pura-pura mijit sesuatu, mereka hanya tersenyum. Aku jadi teringat pesan si penjual handphone di pasar merah itu. "Kamu jangan pamer-pamer handphone ini, terus kalau ditanya apa-apa soal handphone ini, dan orang bilang apa saja tentang handphone ini, kamu nggak usah jawab, nggak usah komentar apa-apa."

Saya bergidik. Mereka menjalankan pesan si penjual. Kalau ditanya apa pun, seaneh apapun pertanyaan tentang handphone mereka, tidak usah jawab, tidak usah komentar apa-apa.

Setelah Om Ade puas bertanya dan tidak mendapat jawaban apa-apa dari saya, ia beranjak ke meja panjang yang sudah penuh akan cemilan ringan dan kue-kue basah. Saya melamun lagi. Sebuah hipotesis mentah loncat dari kepala saya. Saya tahu! Di kepala, saya punya hipotesis menyeramkan yang bisa menjawab keanehan perilaku sepupu saya. Malam ini juga, akan saya beritahu masalah mereka!

Setelah rumahku agak ramai, Tante Kruni dan Om Tomo dan kedua sepupu datang. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah yang gelisah. Sesekali mereka merogoh saku, jari mendorong ke depan seperti membuka flip, menutupnya kembali, lalu tangannya masuk lagi ke saku. Tidak ada apa-apa di tangan mereka. Aku memberanikan diri berjalan ke depan mereka.

"Aku tahu apa masalah kalian."

"Hee? Apa maksud kamu?"

"Kalian membeli handphone dengan perjanjian. Kalian membayar hanya seperempat harga. Kalian membeli handphone yang hanya bisa dilihat oleh kalian sendiri. Sebanding dengan harga yang kalian bayarkan. Kalian hanya bisa menikmatinya sendiri, tanpa bisa memamerkannya pada orang lain atau membuat orang iri dengan melihatnya."

"Heeeh? Apa sih!" Kepala mereka berdua berkerut. Mereka berdua menatap saya dengan tatapan apa-sih-kamu-sudah-gila-ya. Wajah mereka terlihat tidak bersahabat.

Sepupu saya yang laki-laki lalu mendekatkan wajahnya kepada saya, lalu berteriak dengan jarak wajahnya dengan wajahku kurang dari sepuluh senti.

"I'll tell you what! Gimana kalo gini! Gua beli seperempat harga, sisanya gua bayar pake jiwa gua!!! Puas luh!!! Kenapa sih lu ganggu gua, nanya-nanya, cerita-cerita soal handphone gua, bilang-bilang gua ama adek gua gila, lah! Tau nggak, gara-gara lu sekeluarga besar suka nanya-nanya sama gua soal itu!! Lu pikir gua nggak bete apa digituin!" Ia lalu mendorong kepala saya ke belakang dengan tenaga tangan orang yang sedang marah besar.

Tubuh saya bergetar. Jujur, saya takut dibentak begitu olehnya. Saya belum pernah diintimidasi seperti itu, apalagi oleh saudara sendiri. Saya diam, tidak bisa membalas. Timbul rasa benci di dada. Sudah bagus mau ditolong, dia malah membentak saya. Diam-diam di hati saya berharap ia kualat.

Sejak itu saya tidak pernah mengungkit soal itu. Tidak juga keluarga. Persis seperti permintaannya. End of the story. Saya tidak ingat apa-apa lagi. Hanya itu yang saya ingat sampai saya terbangun pagi ini, empat tahun setelah perjalanan kami ke pulau kecil 'tak berpenghuni'.

Mendadak sebuah memori super absurd yang tadinya tidak ada, atau mungkin tidak saya hiraukan, mencuat di kepala saya.

Saya…

punya…

sepupu…

Anak dari Tante Kruni dan Om Tomo.

            Secepat kilat saya mencari album foto, mencari-cari foto mereka. Saya tidak ingat wajah mereka. Yang kuingat hanya satu perempuan dan satu laki-laki. Kubuka album pertama dengan cepat, mencari wajah itu. Tidak ada. Album kedua. Tidak ada. Album ketiga. Tidak ada. Bulu kudukku berdiri. Ini tidak mungkin. Ini-tidak-mungkin. Saya tidak ingat nama mereka. Apakah mereka memang tak ada? Tidak mungkin. Mimpi itu, memori ini, terasa sangat nyata.

            Ada yang salah pada susunan otak saya. Ada yang salah pada sistem memori otak saya. Kenapa saya tidak bisa mengingat mereka? Saya harus bertanya pada ayah. Saya terburu lari menuju kamar ayah, hingga menendang album foto yang tadi saya lihat. Foto-foto terhampar berserakan di lantai. Sebuah foto buram terselip di bawah foto ayah dan ibu. Secara naluriah saya mengambilnya. ADA! Sebuah foto berisi saya dan ibu di depan rumah kayu yang bercahaya.

Berarti liburan itu nyata! Saya memang pernah berlibur ke pulau terpencil! Saya segera lari ke kamar ayah. Saya bertanya tentang liburan itu. Ada apa, Ardi? Ya, memang kita pernah liburan ke sana. Waktu itu kamu tidur terus! Hahahaha, anak bodoh! Orang liburan kok tidur terus! Itu pulau benar-benar tidak ada siapa-siapa. Jalan setapak juga cuman ada sampai rumah tempat kita tidur. Ayah sempat jalan-jalan ke belakang rumah. Hutannya masih rapat, masih alami! Apa ya nama pulaunya? Oh iya! Red Private Peace Island. Ayah masih belum tau, darimana red-nya? Pulau itu gak ada merah-merahnya! Hahahaha. Oh. Apa? Sepupu? Dari Tante Kruni? Kamu jangan mengada-ngada, Ardi. Kamu kan tahu kalo Om Tomo tidak bisa punya anak.

 



Next 5 >>

shouuutt!!!