cerpenkudont believe me, i'm superstitious
anuaja
read my profile
sign my guestbook

Visit anuaja's Xanga Site!

Name: anu
Country: Indonesia
Metro: Bandung
Birthday: 12/30/1983
Gender: Male


Interests: music, books, writing, nyari masalah, gangguin cewe orang.
Expertise: guitar playing, writing stories


Message: message meEmail: email me
Website: visit my website
Yahoo: kacanggorengasin


Member Since: 10/13/2004

SubscriptionsSites I Read
dodybear

Posting Calendar

|<< oldest | newest >>|
view all weblog archives

Get Involved!

Suggest a link

Recommend to friend

Create a site


Wednesday, October 20, 2004

cobain kalo tulisannya putih keliatan ga ?


Ini salah satu cerpen buatan gw yg gw selamatkan dari blog yg lama, posting yg dulu udah ga terselamatkan lagi..

A Cup of Juice

Tahun itu adalah tahun yang terburuk dalam hidupku. Aku benar-benar sendiri. Aku tidak bercanda, itu bukan perumpamaan, bukan pula hiperbola. Segala suasana itu hilang begitu saja. Keakraban di antara aku dan teman-temanku, raib entah kemana. Disini, aku bahkan tidak punya teman mengobrol. Lingkunganku yang baru, seperti tidak menerima keberadaanku. Semuanya terasa palsu, klise, dan dibuat-buat. Segala keramah-tamahan itu, terasa tidak nyata.
Aku baru saja masuk kuliah. Tadinya aku ingin sekali masuk fakultas ekonomi universitas ini. Terutama jurusan manajemen. Uh, itu jurusan favoritku. Kenapa? Ya tentu saja karena kebanyakan teman-teman SMA-ku juga ingin masuk kesana, sehingga otomatis jika aku masuk jurusan itu, aku akan selalu bersama dengan teman-temanku. Mereka teman-teman terbaik di dunia. Selama aku hidup, merekalah yang paling bisa mengerti aku. Mereka selalu mengajak aku kemana mereka pergi, memberitahu banyak hal baru yang belum kukenali, sampai menyarankan gadis mana yang sebaiknya kukejar. Wow! Dimana lagi kau bisa menemukan teman-teman sebaik itu?
Tapi kenyataan lain dengan harapan. Memang aku diterima di universitas ini, tapi bukan di fakultas ekonomi. Pilihan pertama: manajemen, pilihan kedua: administrasi negara. Pilihan keduaku yang masuk. Aku diterima di fakultas sospol, jurusan administrasi negara. Kupikir, ah tidak apa-apa. Aku masih bisa bertemu dengan teman-temanku di SMA sepulang kuliah. Ya, saat masih SMA, kami selalu berkumpul di salah satu kedai yang letaknya tepat di sebelah SMA kami. Bahkan sampai kami lulus pun, kami tetap selalu datang ke sana. Selalu. Setiap hari.
Sampai suatu hari kutemukan tidak ada lagi temanku yang datang kesana. Kedai itu sekarang selalu penuh oleh anak yang masih sekolah. Masih bahagia. Aku sungguh kecewa. Teman-temanku hilang begitu saja. Sedih sekali rasanya, kehilangan kalian semua, tanpa lambaian atau kata-kata perpisahan. Aku merasa sendiri. Aku sepenuhnya sendirian.
Tempat ini mereka sebut taman bundar. Ya, bentuk taman ini memang bundar. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi apa yang bisa diharapkan dari sebuah taman yang terletak di tengah-tengah sebuah universitas? Tepat ditengah taman ini ada sebuah pohon besar, yang menutupi hampir keseluruhan taman. Daun-daunnya selalu berguguran, tapi tidak pernah habis. Cahaya matahari menyelinap dari daun-daun pohon tersebut, menyilaukan mataku yang tak berhenti mencari sesuatu. Mengelilinginya, terdapat bangku-bangku kayu, yang sekarang salah satunya sedang kududuki. Aku suka duduk disini, disini teduh, nyaman. Walaupun sendirian. Aku selalu suka taman. Entah kenapa, sejak kecil aku selalu suka pergi ke taman, untuk bertemu teman-teman, membaca sendirian, ataupun sekadar melamun demi menghindari rumah yang membosankan.
Aku menghisap rokokku, lalu mengepulkan asapnya pelan-pelan. Tangan kiriku memijit-mijit tombol telepon genggam, bolak-balik di antara direktori messages dan picture. Entah apa yang kucari, aku melakukannya hanya agar kelihatan sibuk. Di depanku orang lalu lalang menuju kampusku, gedung nomor tiga. Tak ada satupun wajah yang kukenali.
Aku sedang menunggunya. Dia satu SMA denganku, walaupun kami tidak pernah sekelas. Dia mengobrol denganku. Well, sebenarnya tidak terlalu sering, dia lebih sering duduk di sebelahku tanpa berbicara apa-apa, lalu mengajakku mengantarnya ke berbagai tempat. Tempat yang tidak jauh tentunya, masih di sekitar kampus, sekadar membeli roti atau memfotokopi sesuatu.
Aku tertarik padanya. Bukan karena siluet tubuhnya yang indah, atau rambut pendeknya yang bersinar, bukan pula parfumnya yang seakan selalu menarikku untuk selalu berdekatan dengannya, bukan itu, ada sesuatu yang lain. Aku melihat sesuatu di matanya. Aku membaca sesuatu, sesuatu yang sebenarnya sulit diungkapkan oleh kata-kata. Di matanya, ada kesedihan, ada keputus asaan, ada sakit, hmm bukan, bukan sakit, mungkin kata yang tepat itu… perih. Aku tahu ini kedengaran bodoh, tapi aku bisa benar-benar merasa bisa merasakan apa yang dirasakannya. Matanya seolah-olah bercerita yang tidak diungkapkan oleh kata-kata. Aku tahu ini sulit dipercaya, aku adalah orang yang sangat rasional, aku pun sulit untuk mempercayainya. Matanya juga bercerita tentang penantian, dan kesabaran. Penantian akan apa? Kesabaran akan apa? Aku sepenuhnya tidak tahu.
Satu helai daun jatuh terselip di kacamataku. Kuambil daun itu, mengamatinya sebentar, lalu membuangnya ke tanah. Rokokku sudah hampir habis. Kuhisap rokok itu untuk terakhir kalinya, lalu kulempar puntungnya ke tempat sampah plastik di sebelah kananku. Tempat sampah itu penuh dengan daun dan kertas tissue. Puntung rokok yang tadi kulempar, sedikit demi sedikit membakar kertas tissue di bawahnya. Aku diam mengamati. Kertas tissue itu terus terbakar, sampai angin berhembus menerpa apinya. Dia belum juga datang. Biasanya dia datang sekitar setengah jam yang lalu. Aku mulai tak sabar.
Sinar matahari siang belum mampu menembus dahan-dahan pohon besar yang melingkupiku. Aku memasukkan telepon genggamku ke dalam saku celana. Kuambil lagi satu batang rokok dari kotaknya. Kutaruh rokok itu di ujung mulut, seraya mengambil lighter yang ada di saku jaket. Kutekan tombol lighter itu di depan ujung rokok. Satu kali, dua kali, tiga kali. Lighternya tidak mau menyala. Kugoyang-goyangkan, lalu kucoba nyalakan lagi. Percuma, mungkin gasnya habis. Sial. Di bangku sebelah kiriku, ada seorang laki-laki yang sedang merokok. Kurasa ia mahasiswa juga. Tapi ia terlihat tua, kupikir mungkin angkatan diatasku. Aku mengurungkan niat untuk meminjam korek padanya. Maklum, di kampus ini senioritas masih sangat kental, jadi jika aku meminjam koreknya, mungkin aku harus beramah-tamah dengan kesopanan yang berlebihan dahulu sebelumnya. Aku berdiri, lalu bergerak ke arah kantin, untuk membeli lighter baru.
Setelah aku mendapatkan lighter baru dan berhasil menyalakan rokokku, aku kembali ke taman bundar untuk segara duduk di tempat yang sama. "Via, kenapa kau belum juga datang…" keluhku di dalam hati.
Aku merasakan adanya kesamaan dengannya. Ya, walaupun kami belum pernah berbicara serius tentang yang kami rasakan. Jika bertemu, kami hanya tersenyum, mengucapkan hai, duduk, membicarakan hal yang tidak penting, lalu pergi. Aku merasa punya teman, teman sependeritaan. Aku merasa kami sama-sama merasakan sakit. Tapi aku tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama denganku. Aku tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak, aku juga tidak tahu apa tujuannya selalu meminta ditemani olehku, di saat kuliah dan di luar kuliah. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Untuk berdekatan dengannya saja, aku sudah senang. Di dekatnya, seakan banyak kata-kata yang dimengerti tanpa diucapkan.
Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Kurasa bahasa tubuhnya tidak cukup untuk menggambarkan siapa dia, orang seperti apa dia, atau apa yang dipikirkannya. Aku harus cari tahu, aku harus tahu lebih banyak tentangnya. Untuk apa? Untuk memenuhi perasaan ketertarikkanku padanya yang semakin menguat. Aku merasakan empati terhadapnya. Aku merasa bisa membantunya. Apapun masalahnya, apapun kesulitannya, aku merasa bisa untuk membantu, setidaknya meringankannya. Aku pernah menanyakan langsung padanya, tentang apakah dia punya masalah, tentang kesedihan yang terlukis jelas di matanya. Tapi dia tak pernah mau bercerita apa-apa. Dia selalu bilang bahwa dia baik-baik saja. Lalu apa yang tergambar di matamu? Aku tidak mungkin salah. Matamu bercerita begitu gamblang.
Aku harus tahu masalahnya. Maka dari itu, aku perlu menyelidikinya. Aku kenal seorang teman yang pernah menjadi sahabatnya. Katanya, Via memang tertutup, dia tidak bercerita perasaan pribadinya kepada siapapun. Aku kaget. Bagaimana bisa seorang manusia tidak menceritakan perasaan kuat, sedih atau senang di dalam hatinya? Bagaimana dia bisa hidup seperti itu? Tapi sekali lagi temanku itu meyakinkan bahwa yang diceritakannya sungguh-sungguh benar. Lalu temanku itu bercerita juga, bahwa dia sedang dalam masalah dengan mantan pacarnya sewaktu SMA. Masalah yang bagaimana? Temanku yang baik, sayang sekali kau tidak tahu lebih banyak.
Walau minim sekali informasi yang kudapat, aku mencoba menghubungkannya dengan apa yang kulihat di matanya. Suatu kali, tanpa sengaja, aku pernah bertemu dengan pacarnya. Aku, dia, bersama teman-teman SMA-ku, makan siang bersama. Saat makan, seperti biasa mereka bercerita tentang keseharian mereka. Dan cerita kali ini, lain dari biasanya, tentang gadis yang sangat mempesona, yang bisa membuat mereka kompak setuju akan kecantikannya. Termasuk aku tentunya. Kulihat, mantan pacarnya itu mendominasi meja makan dengan cerita sombong akan keakrabannya dengan gadis itu. Ah, tapi apa urusannya denganku, pikirku saat itu.
Rokokku yang kedua sudah terbakar setengahnya, saat Via menepuk punggungku dari belakang, "Hei, ngelamun aja lu!" sapanya sambil tersenyum ramah. Aku segera membalikkan badanku. Saat itu aku melihatnya. Aku melihat sinar yang berbeda dari matanya. "Hai! Ko baru dateng sih? Biasanya kan dateng jam dua belasan gitu…" balasku. "Iya nih, tadi Via nganterin adik dulu, terus tadi macet gituu di jalan! Sebel deh…" jawabnya sambil memonyongkan bibirnya, menandakan ia kesal. Ia lalu duduk di bangku yang sama dengan yang kududuki. Saat itu juga dapat kucium parfumnya yang menurutku, seducing. Kupikir mungkin parfumnya mengandung feromon. Badannya menyender pada badanku dengan ringan, seperti yang sering dilakukannya. Aku suka jika dia melakukannya. "Ooo…" Aku lalu menghisap rokokku yang tinggal sedikit.
"Kamu ngerokok aja ih, bau tau ke baju Via!"
"Ih protes aja! Ya udah nih aku buang rokoknya."
Kulempar rokokku yang tinggal sedikit ke tempat sampah yang tadi. Ia lalu menceramahiku tentang betapa tidak ada gunanya merokok, betapa sungguh merugikan kebiasaan merokok, dan betapa merokok itu tidak keren sama sekali. Aku menjawab bahwa aku tahu semua hal yang diucapkannya tentang merokok, dan meyakinkannya bahwa aku sudah berusaha berhenti, tetapi tidak bisa, karena jika aku sedang sendiri dan tidak ada yang dikerjakan, pasti aku tidak bisa menahan dorongan untuk merokok, dan karena aku baru masuk kuliah, belum punya teman untuk diajak mengobrol, maka semakin sulitlah aku berhenti merokok.
Dia hanya menjawab dengan keluhan, bahwa niatku untuk berhenti masih sangat kurang. Lalu kami terdiam cukup lama.
Aku sadar bahwa kami terlalu lama berdiam, dan disaat aku akan membuka mulutku untuk menanyakan sesuatu yang tidak penting, dia berdiri seraya menarik tanganku, lalu berkata, "Temenin Via yuk beli jus ke depan!" Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk sambil berdiri dan mengikuti langkahnya.
"Kamu mau?"
"Mm, engga deh…"
Di depan stand penjual jus dia bertanya sambil membayar jus yang sudah dia pegang ditangannya. Dia lalu meminumnya sedikit. Saat kami akan kembali untuk duduk lagi di taman bundar, terdengar suara laki-laki yang memanggil namanya,
"Via!!"
"Eh, Panji!"
Ternyata itu mantan pacarnya. Entah sadar atau tidak, Via memberikan jus di tangannya kepadaku. Aku yang tidak mengerti, mengambilnya. Mereka lalu bergerak agak menjauh, lalu berbicara. Kulihat dia mengerutkan keningnya, lalu seketika tersenyum, lalu berbicara lagi. Berulang-ulang begitu. Lima menit berlalu sudah.
Lima menit terlama dalam hidupku.
Aku berdiri tercenung menunggunya dengan tidak sabar.
Saat aku melirik lagi ke arah mereka, ternyata mereka sedang berjalan, ke arah yang berlawanan dengan tempatku berdiri.
Dia tidak melihat ke arahku.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata apapun padaku.
Cup jusnya masih ada padaku.


Tuesday, October 19, 2004

currently clueless right now
i think i should mail her


Sunday, October 17, 2004

i voluntarily left you

theres nothing else i can give you, for sure
you treat me even worst than a friend
and there will no better acquaintance will be made after this
since you told me that you hated me, and so do I
so there will be no endeavour from both of us to fix our acquaintance


a friend cares about her friend's feelings
a friend know when his friend's birthday, even sometimes he forget
a friend replies her friend's message(s), and ask apologies if she doesnt
a friend doesnt attempt to hurt his friend's feelings

you see?
so is it still my fault?


Wednesday, October 13, 2004


I've just deleted my old blog, and moved here..
Its not easy to delete my old blog, but its neccesary

I hope everything gonna be better in my moving here
she cant read what i write, yeah maybe for a while



<< Previous 5

shouuutt!!!